Mitos & Fakta Seputar Paraben

Benarkah ada produk yang benar-benar bebas dari bahan kimia?

Selama ini kamu mendengar akan sebuah zat yang konon berbahaya, yang ada dalam produk kecantikan, perawatan tubuh sehari-hari, sampai makanan. Nama zat itu, paraben. Kemudian kamu pun berusaha mencari produk berlabel “No Added Paraben” atau bahkan “Paraben Free”, sampai produk yang mengklaim dirinya organik atau natural untuk mengganti produk yang biasa kamu pakai. Semuanya didorong oleh ketakutan akan terpapar penyakit gawat yang konon disebabkan oleh paraben.

Sebenarnya, apa itu paraben? Separah itukah efek negatifnya untuk kesehatan manusia dan lingkungan hidup?

 

 

Paraben adalah zat pengawet yang pertama kali dipopulerkan pada tahun ’50-an dan digunakan pada produk kesehatan sampai kecantikan. Sesuai dengan fungsinya, paraben dapat mencegah segala macam jamur, bakteri, dan mikroba lain hidup dan berkembang dalam sebuah produk.

Lantas pada tahun 2004, penelitian di Inggris menemukan zat tersebut ada dalam jaringan tisu 19 dari 20 perempuan yang mengidap kanker payudara. “Studi kecil ini tidak lantas membuktikan hubungan kasual antara paraben dengan kanker payudara, namun penting untuk diperhatikan bahwa paraben terdeteksi pada pengidap penyakit tersebut, di mana susunan kimianya tidak berubah oleh sistem metabolisme tubuh. Ini menandakan kemampuannya melakukan penetrasi kulit dan menetap di jaringan tisu,” jelas sebuah lembaga non-profit bernama Campaign for Safe Cosmetics (CSC), seperti yang dilansir dari scientificamerican.com. Lebih lanjut, CSC menegaskan kemampuan paraben meniru estrogen, sementara apabila tubuh seseorang mengandung estrogen secara berlebih, hal ini dapat merusak fungsi hormon dan pada akhirnya meningkatkan resiko penyakit kanker payudara maupun gangguan reproduktif lainnya.

Namun, penelitian tersebut disangkal oleh pendapat lain yang mempertanyakan kenapa tidak ada perbandingan dengan jaringan tisu orang yang tidak mengidap penyakit sama?

Penelitian demi penelitian pun dilakukan, sampai akhirnya Health Canada dan CIR (Cosmetic Ingredient Review) yang berbasis di Amerika menyatakan bahwa paraben dapat ditolerir dalam level atau jumlah tertentu. Kemudian pada tahun 2005, European Commission’s Scientific Committee on Consumer Products menguatkan dengan konfirmasi bahwa penggunaan paraben aman apabila sesuai dengan regulasi.

Fakta terus menguji dan memperbarui diri. European Commission pada September 2014 mengeluarkan ketetapan baru, berupa pelarangan 5 jenis paraben dalam produk kesehatan, perawatan tubuh sehari-hari, dan kosmetik yang beredar di sana. Kelima macam paraben tersebut adalah Isopropylparaben, Isobutylparaben, Phenylparaben, Benzylparaben, dan Pentylparaben.

Sementara itu, Propylparaben, Butylparaben, Methylparaben, dan Ethylparaben masih aman selama dalam batas ambang tertentu yang diatur lebih lanjut. Hal ini dikonfirmasi oleh Scientific Committee on Consumer Safety (SCCS).
Jadi, sekarang kembali pada kenyamanan kamu sebagai konsumen. Kalau tidak ingin dibayang-bayangi ketakutan akan dampak yang bisa muncul di kemudian hari, kamu bisa memilih produk “Paraben Free”, meski tak selamanya itu merupakan solusi. Kamu harus tetap jeli terhadap kemungkinan kandungan pengawet sintetis lain yang bisa saja lebih berbahaya. Yang terpenting untuk dilakukan sekarang, adalah memilih produk yang jujur mengenai kandungan-kandungan kimia di dalamnya. Karena bagaimanapun, pengawet masih diperlukan dalam sebuah produk. Bukan untuk membuatnya tahan selama mungkin, melainkan untuk mencegah kemungkinan yang lebih buruk muncul, misalnya saja bakteri berbahaya tumbuh berkembang di sana.

 

Velvy sangat peduli dengan keamanan dan kesehatan tiap konsumen, selain keberlangsungan produknya sendiri. Dengan klaim No Added Paraben yang telah teruji, Velvy kini semakin memantapkan langkah untuk menjadi produk Paraben Free yang diakui dan tentunya, tetap aman bagi kamu semua.